Minggu, 04 April 2010

Ingin berlibur

Sayang sekali libur akhir pekan yang panjang ini tak bisa aku manfaatkan untuk berlibur, walau sebenarnya ingin sekali. Kelelahan setelah melakukan banyak aktivitas yang menguras energi dan pikiran itu baru terasa sekarang. Di saat seperti ini, terbayang betapa enaknya bisa berlibur.

Sayangnya, Sabtu kemarin Shasa tidak libur dan tetap masuk sekolah, meskipun Sabtu menjadi "hari kejepit nasional = Harpitnas". Walaupun termasuk "Harpitnas", namun aktivitas di sekolah Shasa tetap berjalan seperti biasa dan Shasa tetap pulang jam 14.30. Seandainya saja Shasa diliburkan Sabtu kemarin, setidaknya aku dapat mengajak Shasa berlibur, atau sekedar jalan-jalan.

Tapi... seandainya Sabtu kemarin Shasa libur, sepertinya aku tak bisa mengajaknya kemana-mana juga. Karena beberapa hari ini Shasa fokus untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti Lomba Komputer dan Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2010. Sebenarnya aku menganjurkan Shasa untuk tidak mengikuti Lomba Komputer yang akan dilaksanakan tanggal 11 April yang akan datang di Ponorogo. Kebetulan, pada tanggal itu jadwal kegiatanku padat. Sayangnya, Shasa tetap ngotot ingin ikut... dan akhirnya aku harus mengalah dan mengatur ulang jadwal kegiatanku agar bisa mengantar Shasa ke Ponorogo tanggal 11 April nanti.

Sementara itu, Shasa juga menyempatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi OSK yang akan dilaksanakan tanggal 17 April 2010. Shasa melakukannya, di antara kesibukan sekolahnya dan persiapan lomba komputer. Walau selama ini perjuangan Shasa dalam OSK selama 4 tahun berturut-turut selalu terhenti di babak semifinal, tapi rupanya dia belum menyerah.

Begitulah.., Shasa sedang sangat sibuk... dan aku tak bisa mengganggu kesibukannya. Padahal aku ingin sekali berlibur... Aku ingin sekali mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani aktivitasku selanjutnya. Berhubung situasi dan kondisi sedang tidak memungkinkan, maka aku harus berkompromi dengan keadaan yang ada. Semoga saja, di lain kesempatan aku dapat berlibur kembali bersama keluarga untuk 'memulihkan' lagi staminaku setelah berkutat dengan berbagai aktivitas yang melelahkan.

Kapankah keinginanku untuk berlibur dan menikmati liburan panjang dapat menjadi kenyataan..?

Ingin berlibur

Sayang sekali libur akhir pekan yang panjang ini tak bisa aku manfaatkan untuk berlibur, walau sebenarnya ingin sekali. Kelelahan setelah melakukan banyak aktivitas yang menguras energi dan pikiran itu baru terasa sekarang. Di saat seperti ini, terbayang betapa enaknya bisa berlibur.

Sayangnya, Sabtu kemarin Shasa tidak libur dan tetap masuk sekolah, meskipun Sabtu menjadi "hari kejepit nasional = Harpitnas". Walaupun termasuk "Harpitnas", namun aktivitas di sekolah Shasa tetap berjalan seperti biasa dan Shasa tetap pulang jam 14.30. Seandainya saja Shasa diliburkan Sabtu kemarin, setidaknya aku dapat mengajak Shasa berlibur, atau sekedar jalan-jalan.

Tapi... seandainya Sabtu kemarin Shasa libur, sepertinya aku tak bisa mengajaknya kemana-mana juga. Karena beberapa hari ini Shasa fokus untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti Lomba Komputer dan Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2010. Sebenarnya aku menganjurkan Shasa untuk tidak mengikuti Lomba Komputer yang akan dilaksanakan tanggal 11 April yang akan datang di Ponorogo. Kebetulan, pada tanggal itu jadwal kegiatanku padat. Sayangnya, Shasa tetap ngotot ingin ikut... dan akhirnya aku harus mengalah dan mengatur ulang jadwal kegiatanku agar bisa mengantar Shasa ke Ponorogo tanggal 11 April nanti.

Sementara itu, Shasa juga menyempatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi OSK yang akan dilaksanakan tanggal 17 April 2010. Shasa melakukannya, di antara kesibukan sekolahnya dan persiapan lomba komputer. Walau selama ini perjuangan Shasa dalam OSK selama 4 tahun berturut-turut selalu terhenti di babak semifinal, tapi rupanya dia belum menyerah.

Begitulah.., Shasa sedang sangat sibuk... dan aku tak bisa mengganggu kesibukannya. Padahal aku ingin sekali berlibur... Aku ingin sekali mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani aktivitasku selanjutnya. Berhubung situasi dan kondisi sedang tidak memungkinkan, maka aku harus berkompromi dengan keadaan yang ada. Semoga saja, di lain kesempatan aku dapat berlibur kembali bersama keluarga untuk 'memulihkan' lagi staminaku setelah berkutat dengan berbagai aktivitas yang melelahkan.

Kapankah keinginanku untuk berlibur dan menikmati liburan panjang dapat menjadi kenyataan..?

Sabtu, 03 April 2010

Maaf, aku punya cinta yang lain

Seperti biasa, setelah mandi dan makan malam, aku menuju meja kerjaku. Segera kunyalakan komputerku karena aku ingin segera kembali menyapa teman-temanku di facebook. Sebuah dunia yang baru aku kenal setahun belakangan ini, namun telah benar-benar membuatku sangat kecanduan. Rasanya beban pekerjaanku yang berat akan terlepas setelah aku menyapa teman-temanku di facebook.

Dari sudut mataku, kulihat kau melangkah ragu-ragu mendekatiku. Aku tentu saja merasa heran, karena kau tahu bahwa aku tak suka diganggu jika sudah berada di depan komputerku.

"Mas.., boleh aku bicara ?" tanyamu hati-hati sambil mendekatiku. Kulihat tanganmu yang meremas-remas tissue. Gelisah, itu penilaianku padamu.

Sejenak kuangkat pandanganku dari layar monitor yang ada di depanku.
"Ada apa?" jawabku singkat.

Sekilas kulihat keraguan di matamu. Kau masih berdiri gelisah di depanku dan aku masih menunggu apa yang akan keluar dari bibirmu.

"Mas.., maaf aku punya cinta yang lain," bisikmu pelan, nyaris tak terdengar olehku, namun cukup mengagetkanku. Sejenak aku kehilangan kata-kata, hanya kupandangi sosokmu yang berdiri gelisah di depanku.


Kebisuan menggantung cukup lama di antara kita. Aku tak menemukan kata sementara kau tak berani mengeluarkan kata. Kikuk dan tegang terasa kental di udara yang menyelimuti kita.

Kupandang dirimu dan baru kusadari betapa telah banyak perubahanmu yang luput dari perhatianku. Matamu tak lagi menampakkan cahaya dan semangat sebagaimana mata yang begitu kupuja dulu. Wajahmu pucat dan terlihat tirus. Kelelahan jelas terpancar dari dirimu. Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali kulihat kau tertawa ceria. Astaga.., apakah memang sudah terlalu lama kau tak tertawa ?

"Mengapa ?" akhirnya hanya itu kata yang berhasil keluar dari bibirku setelah sekian lama terdiam.

"Apakah mas benar-benar ingin tahu alasannya ?" jawabmu ragu-ragu.

"Karena... banyak hal mas," lanjutmu setelah melihatku mengangguk. "Terus terang aku makin hari makin merasa kesepian dan tersisih. Mas begitu sibuk dengan pekerjaan kantor. Sementara di rumah, Mas juga sibuk terus di depan komputer. Tak ada waktumu untukku, Mas. Mas terlalu sibuk menjelajahi pertemanan lewat Facebook daripada menjaga hubungan kita. Mas terlalu sibuk dengan dunia Mas sendiri, sementara aku kesepian dan tersisih disini."

Kata-katamu mulai bergetar. Aku tahu, kau berusaha menahan isakmu. Memang benar apa katamu, aku telah terlena dengan duniaku sendiri. Kesibukan kantor yang luar biasa memang melelahkanku, dan belakangan aku bisa merasakan rasa fresh dan kesenangan saat sedang ber-Facebook. Gairahku dalam ber-facebook makin menjadi saat aku bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama dan juga mantan-mantan pacarku dulu.

"Mas.., di saat aku sibuk mempertahankan hubungan kita, Mas malah sibuk tebar pesona lewat facebook. Kata-kata yang mas tulis di status Mas dan komentar-komentar Mas di wall teman-teman Mas, rasanya telah membuatku seperti tak berharga. Siapa pun yang membaca tulisan Mas, akan mengira bahwa Mas tak bahagia hidup bersamaku. Bahwa Mas terpaksa memilihku sebagai pendamping hidupmu, Mas. Aku merasa tak berharga sama sekali."

Mungkin apa yang kau katakan benar, tapi aku sebenarnya hanya bermaksud bercanda saat menulis semua kata-kata yang menurut istilahmu tebar pesona itu. Aku terlalu senang dapat bertemu teman-teman lama dan mantan-mantan pacarku dulu. Memang sekali dua kali, aku menulis kenanganku dengan mantan-mantanku di wall mereka. Memang sesekali aku menggoda mereka. Tetapi semua itu hanya untuk bercanda, tapi ternyata kau menangkap lain. Apakah orang lain juga menangkap yang sama seperti dirimu juga ?

"Mas.., di saat aku merasa tak berharga dan kesepian, ada orang yang mendekat padaku. Aku berusaha untuk tidak menanggapinya pada mulanya, tapi dia begitu santun. Aku tak sanggup berkata dan berbuat kasar padanya. Awalnya dia hanya SMS padaku, tapi akhir-akhir ini dia mulai sering meneleponku. Tapi sekali lagi, aku tak ada alasan untuk marah dan memusuhinya karena dia begitu santun."

"Mengapa kau jatuh cinta padanya ?" tanyaku akhirnya setelah sekian lama hanya diam mendengarnya bicara. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

"Dia sangat peduli dan perhatian padaku. Kebetulan kami sekantor, walaupun kami tak berada dalam divisi yang sama. Dia banyak menguatkanku, walaupun tak sepatah kata pun aku katakan padanya tentang kondisi rumah tangga kita. Mungkin, dia bisa meraba gejolak yang ada di dadaku, Mas."

Perhatian..? Rasanya memang aku sudah lama tak memberikan perhatian padamu, bahkan perubahan pada dirimu pun terlewatkan olehku. Mungkin aku juga kurang peduli padamu akhir-akhir ini, bahkan aku tak tahu keinginanmu. Mungkinkah ini karena aku telah tenggelam terlalu dalam di duniaku sendiri ? Sudah sekian jauhkah aku melangkah sendiri ?

"Dia tak setampan dirimu, Mas. Tapi aku merasa nyaman saat ngobrol dengannya. Dia baik. Dia senang mendengarkan aku berbicara tentang apa saja. Terus terang, aku sebenarnya tak bermaksud untuk memberikan perhatian lebih padanya. Namun semenjak aku merasa sendirian dan kesepian, hanya tangannya yang terulur untuk membantuku keluar dari rasa sepi dan sendiri itu. Sementara dirimu tak pernah tahu betapa aku merasa sangat tersisih."

Kau usap ujung matamu dengan tissue yang mulai lusuh di tanganmu. Brengsek..! Padahal sejak tadi aku tahu betapa kau berjuang keras untuk tidak menangis di depanku, tapi tak juga aku tawarkan bahuku untukmu menyandarkan dukamu. Bahkan, aku pun tak meraih tanganmu dan membimbingmu duduk di dekatku. Rupanya benar-benar telah mati rasa peduliku padamu.

"Mas.., maafkan aku. Aku kini punya cinta yang lain. Walau aku tak pernah berharap ini terjadi, tapi kini aku tak kuasa menolaknya. Maafkan aku, Mas. Sejujurnya kukatakan bahwa rasa cintaku padamu sangat besar, sehingga penolakanmu untuk berada dekat denganku rasanya sangat menusuk hatiku. Kekecewaan dan kepedihanku terasa sangat dalam, hingga aku takut jika berubah membencimu. Walau ku ingin mendampingimu hingga akhir hidupku, tapi rasanya kehadiranku tak berarti bagimu."

Ternyata, sebegitu dalamkah luka yang kutorehkan padamu akibat ketidakpedulianku ? Tetapi tak tepat jika ini kau katakan ketidakpedulian, karena aku melakukannya dengan tidak sengaja. Aku hanya tak sempat memperhatikanmu karena aku memang sedang tenggelam dalam duniaku sendiri. Ternyata, bahkan aku telah kehilangan waktu untuk memperhatikanmu.

"Mas..., demi kebahagiaan kita bersama, ijinkah aku mundur dari hidupmu. Agar kau bisa lebih bahagia menjalani hari-hari tanpa aku. Dan.., agar aku tak memendam kekecewaan lagi padamu. Biarlah rasa cintaku padamu kusimpan di sudut hatiku. Sementara sebagian besar hatiku akan kucoba untuk kuserahkan pada cintaku yang lain, yang baru aku temukan lewat deritaku."

"Siapa dia..?," tanyaku akhirnya dengan rasa pahit yang tak terduga muncul tiba-tiba membanjiri hatiku.

"Pak Dani, mungkin Mas masih ingat dia. Semenjak istrinya meninggal 3 tahun yang lalu, Pak Dani memang cenderung menutup diri. Mungkin, kepedihanku dapat tertangkap olehnya dan seakan merefleksikan kepedihannya sendiri. Mungkin itu yang membuatnya mencoba membantuku. Semoga kebersamaan kami akan memberikan kebahagiaan bagi kami masing-masing. Kami berharap dapat menguatkan satu sama lain."

Kau tundukkan kepalamu menghindari tatap mataku. Aku tak sempat menangkap adakah binar cinta yang baru tumbuh di sana. Tapi aku tahu, kau sangat keras kepala. Sekali kau mengambil keputusan, maka tak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Bahkan aku pun tak akan bisa membuatmu menyurutkan langkah. Jadi, rasanya tak ada harapan bagiku untuk membuatmu mengubah keputusanmu.

"Mas..., maafkan aku. Rasanya perpisahan di antara kita harus segera di akhiri. Biarkan aku simpan kenangan indah bersamamu. Semoga Mas akan segera mendapatkan pendamping baru yang jauh lebih baik daripadaku. Pendamping yang benar-benar dapat memahami Mas sepenuhnya. Maafkan aku jika selama kita bersama aku tak mampu membahagiakanmu. Semoga Mas ridho atas semua perbuatanku selama ini."

Kau melangkah maju, meraih tanganku dan menciumnya. Setitik air mata terjatuh di punggung tanganku. Hangat terasa.... namun anehnya hatiku terasa sangat dingin dan membeku. Sebegitu dinginnya, hingga terasa sangat perih dan mengiris hati.

Nanar kutatap langkahmu yang gontai meninggalkanku. Apakah benar kau tak mampu membahagiakan aku ? Rasanya tidak..! Kau telah membuatku bahagia selama ini hanya saja aku tak sempat memberitahumu tentang hal itu. Aku tak punya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku. Salahku jika kau merasa tak berharga. Salahku jika kau kecewa padaku. Salahku jika  aku mencari kebahagiaan semu itu lewat facebook.

Arrgghh..., tiba-tiba saja facebook menjadi sangat tidak menarik bagiku. Ternyata kebahagiaanku bukan dari facebook, melainkan bersama denganmu. Sayang sekali... kesadaran ini terlambat sekali datang padaku.


Sebuah catatan tentang kisah yang kudengar kemarin malam
** gambar diculik dari sini **

Maaf, aku punya cinta yang lain

Seperti biasa, setelah mandi dan makan malam, aku menuju meja kerjaku. Segera kunyalakan komputerku karena aku ingin segera kembali menyapa teman-temanku di facebook. Sebuah dunia yang baru aku kenal setahun belakangan ini, namun telah benar-benar membuatku sangat kecanduan. Rasanya beban pekerjaanku yang berat akan terlepas setelah aku menyapa teman-temanku di facebook.

Dari sudut mataku, kulihat kau melangkah ragu-ragu mendekatiku. Aku tentu saja merasa heran, karena kau tahu bahwa aku tak suka diganggu jika sudah berada di depan komputerku.

"Mas.., boleh aku bicara ?" tanyamu hati-hati sambil mendekatiku. Kulihat tanganmu yang meremas-remas tissue. Gelisah, itu penilaianku padamu.

Sejenak kuangkat pandanganku dari layar monitor yang ada di depanku.
"Ada apa?" jawabku singkat.

Sekilas kulihat keraguan di matamu. Kau masih berdiri gelisah di depanku dan aku masih menunggu apa yang akan keluar dari bibirmu.

"Mas.., maaf aku punya cinta yang lain," bisikmu pelan, nyaris tak terdengar olehku, namun cukup mengagetkanku. Sejenak aku kehilangan kata-kata, hanya kupandangi sosokmu yang berdiri gelisah di depanku.


Kebisuan menggantung cukup lama di antara kita. Aku tak menemukan kata sementara kau tak berani mengeluarkan kata. Kikuk dan tegang terasa kental di udara yang menyelimuti kita.

Kupandang dirimu dan baru kusadari betapa telah banyak perubahanmu yang luput dari perhatianku. Matamu tak lagi menampakkan cahaya dan semangat sebagaimana mata yang begitu kupuja dulu. Wajahmu pucat dan terlihat tirus. Kelelahan jelas terpancar dari dirimu. Aku tak ingat lagi, kapan terakhir kali kulihat kau tertawa ceria. Astaga.., apakah memang sudah terlalu lama kau tak tertawa ?

"Mengapa ?" akhirnya hanya itu kata yang berhasil keluar dari bibirku setelah sekian lama terdiam.

"Apakah mas benar-benar ingin tahu alasannya ?" jawabmu ragu-ragu.

"Karena... banyak hal mas," lanjutmu setelah melihatku mengangguk. "Terus terang aku makin hari makin merasa kesepian dan tersisih. Mas begitu sibuk dengan pekerjaan kantor. Sementara di rumah, Mas juga sibuk terus di depan komputer. Tak ada waktumu untukku, Mas. Mas terlalu sibuk menjelajahi pertemanan lewat Facebook daripada menjaga hubungan kita. Mas terlalu sibuk dengan dunia Mas sendiri, sementara aku kesepian dan tersisih disini."

Kata-katamu mulai bergetar. Aku tahu, kau berusaha menahan isakmu. Memang benar apa katamu, aku telah terlena dengan duniaku sendiri. Kesibukan kantor yang luar biasa memang melelahkanku, dan belakangan aku bisa merasakan rasa fresh dan kesenangan saat sedang ber-Facebook. Gairahku dalam ber-facebook makin menjadi saat aku bisa bertemu kembali dengan teman-teman lama dan juga mantan-mantan pacarku dulu.

"Mas.., di saat aku sibuk mempertahankan hubungan kita, Mas malah sibuk tebar pesona lewat facebook. Kata-kata yang mas tulis di status Mas dan komentar-komentar Mas di wall teman-teman Mas, rasanya telah membuatku seperti tak berharga. Siapa pun yang membaca tulisan Mas, akan mengira bahwa Mas tak bahagia hidup bersamaku. Bahwa Mas terpaksa memilihku sebagai pendamping hidupmu, Mas. Aku merasa tak berharga sama sekali."

Mungkin apa yang kau katakan benar, tapi aku sebenarnya hanya bermaksud bercanda saat menulis semua kata-kata yang menurut istilahmu tebar pesona itu. Aku terlalu senang dapat bertemu teman-teman lama dan mantan-mantan pacarku dulu. Memang sekali dua kali, aku menulis kenanganku dengan mantan-mantanku di wall mereka. Memang sesekali aku menggoda mereka. Tetapi semua itu hanya untuk bercanda, tapi ternyata kau menangkap lain. Apakah orang lain juga menangkap yang sama seperti dirimu juga ?

"Mas.., di saat aku merasa tak berharga dan kesepian, ada orang yang mendekat padaku. Aku berusaha untuk tidak menanggapinya pada mulanya, tapi dia begitu santun. Aku tak sanggup berkata dan berbuat kasar padanya. Awalnya dia hanya SMS padaku, tapi akhir-akhir ini dia mulai sering meneleponku. Tapi sekali lagi, aku tak ada alasan untuk marah dan memusuhinya karena dia begitu santun."

"Mengapa kau jatuh cinta padanya ?" tanyaku akhirnya setelah sekian lama hanya diam mendengarnya bicara. Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

"Dia sangat peduli dan perhatian padaku. Kebetulan kami sekantor, walaupun kami tak berada dalam divisi yang sama. Dia banyak menguatkanku, walaupun tak sepatah kata pun aku katakan padanya tentang kondisi rumah tangga kita. Mungkin, dia bisa meraba gejolak yang ada di dadaku, Mas."

Perhatian..? Rasanya memang aku sudah lama tak memberikan perhatian padamu, bahkan perubahan pada dirimu pun terlewatkan olehku. Mungkin aku juga kurang peduli padamu akhir-akhir ini, bahkan aku tak tahu keinginanmu. Mungkinkah ini karena aku telah tenggelam terlalu dalam di duniaku sendiri ? Sudah sekian jauhkah aku melangkah sendiri ?

"Dia tak setampan dirimu, Mas. Tapi aku merasa nyaman saat ngobrol dengannya. Dia baik. Dia senang mendengarkan aku berbicara tentang apa saja. Terus terang, aku sebenarnya tak bermaksud untuk memberikan perhatian lebih padanya. Namun semenjak aku merasa sendirian dan kesepian, hanya tangannya yang terulur untuk membantuku keluar dari rasa sepi dan sendiri itu. Sementara dirimu tak pernah tahu betapa aku merasa sangat tersisih."

Kau usap ujung matamu dengan tissue yang mulai lusuh di tanganmu. Brengsek..! Padahal sejak tadi aku tahu betapa kau berjuang keras untuk tidak menangis di depanku, tapi tak juga aku tawarkan bahuku untukmu menyandarkan dukamu. Bahkan, aku pun tak meraih tanganmu dan membimbingmu duduk di dekatku. Rupanya benar-benar telah mati rasa peduliku padamu.

"Mas.., maafkan aku. Aku kini punya cinta yang lain. Walau aku tak pernah berharap ini terjadi, tapi kini aku tak kuasa menolaknya. Maafkan aku, Mas. Sejujurnya kukatakan bahwa rasa cintaku padamu sangat besar, sehingga penolakanmu untuk berada dekat denganku rasanya sangat menusuk hatiku. Kekecewaan dan kepedihanku terasa sangat dalam, hingga aku takut jika berubah membencimu. Walau ku ingin mendampingimu hingga akhir hidupku, tapi rasanya kehadiranku tak berarti bagimu."

Ternyata, sebegitu dalamkah luka yang kutorehkan padamu akibat ketidakpedulianku ? Tetapi tak tepat jika ini kau katakan ketidakpedulian, karena aku melakukannya dengan tidak sengaja. Aku hanya tak sempat memperhatikanmu karena aku memang sedang tenggelam dalam duniaku sendiri. Ternyata, bahkan aku telah kehilangan waktu untuk memperhatikanmu.

"Mas..., demi kebahagiaan kita bersama, ijinkah aku mundur dari hidupmu. Agar kau bisa lebih bahagia menjalani hari-hari tanpa aku. Dan.., agar aku tak memendam kekecewaan lagi padamu. Biarlah rasa cintaku padamu kusimpan di sudut hatiku. Sementara sebagian besar hatiku akan kucoba untuk kuserahkan pada cintaku yang lain, yang baru aku temukan lewat deritaku."

"Siapa dia..?," tanyaku akhirnya dengan rasa pahit yang tak terduga muncul tiba-tiba membanjiri hatiku.

"Pak Dani, mungkin Mas masih ingat dia. Semenjak istrinya meninggal 3 tahun yang lalu, Pak Dani memang cenderung menutup diri. Mungkin, kepedihanku dapat tertangkap olehnya dan seakan merefleksikan kepedihannya sendiri. Mungkin itu yang membuatnya mencoba membantuku. Semoga kebersamaan kami akan memberikan kebahagiaan bagi kami masing-masing. Kami berharap dapat menguatkan satu sama lain."

Kau tundukkan kepalamu menghindari tatap mataku. Aku tak sempat menangkap adakah binar cinta yang baru tumbuh di sana. Tapi aku tahu, kau sangat keras kepala. Sekali kau mengambil keputusan, maka tak ada seorang pun yang dapat mengubahnya. Bahkan aku pun tak akan bisa membuatmu menyurutkan langkah. Jadi, rasanya tak ada harapan bagiku untuk membuatmu mengubah keputusanmu.

"Mas..., maafkan aku. Rasanya perpisahan di antara kita harus segera di akhiri. Biarkan aku simpan kenangan indah bersamamu. Semoga Mas akan segera mendapatkan pendamping baru yang jauh lebih baik daripadaku. Pendamping yang benar-benar dapat memahami Mas sepenuhnya. Maafkan aku jika selama kita bersama aku tak mampu membahagiakanmu. Semoga Mas ridho atas semua perbuatanku selama ini."

Kau melangkah maju, meraih tanganku dan menciumnya. Setitik air mata terjatuh di punggung tanganku. Hangat terasa.... namun anehnya hatiku terasa sangat dingin dan membeku. Sebegitu dinginnya, hingga terasa sangat perih dan mengiris hati.

Nanar kutatap langkahmu yang gontai meninggalkanku. Apakah benar kau tak mampu membahagiakan aku ? Rasanya tidak..! Kau telah membuatku bahagia selama ini hanya saja aku tak sempat memberitahumu tentang hal itu. Aku tak punya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku. Salahku jika kau merasa tak berharga. Salahku jika kau kecewa padaku. Salahku jika  aku mencari kebahagiaan semu itu lewat facebook.

Arrgghh..., tiba-tiba saja facebook menjadi sangat tidak menarik bagiku. Ternyata kebahagiaanku bukan dari facebook, melainkan bersama denganmu. Sayang sekali... kesadaran ini terlambat sekali datang padaku.


Sebuah catatan tentang kisah yang kudengar kemarin malam
** gambar diculik dari sini **

Jumat, 02 April 2010

Jembatan 2 negara

Indonesia dan Australia adalah 2 negara yang bertetangga, namun sayangnya selama ini hubungan kedua negara ini tak selalu berjalan mulus. Berbagai peristiwa dan kejadian memang sempat membuat hubungan kedua negara itu memburuk. Prasangka yang salah pun semakin memperburuk kondisi yang ada.

Namun, ternyata semenjak 3 tahun yang lalu telah ada "jembatan" yang menghubungkan kedua negara itu. Bukan jembatan dalam arti fisik, namun jembatan itu berupa "program kemitraan" yang dijalin oleh Australia dengan Indonesia. Program kemitraan itu bernama BRIDGE atau Building Relationship and Growing Engament Australia – Indonesia.

 Gambar diculik dari sini

Program BRIDGE ini mendapat kucuran dana dari Yayasan Myer dan AusAid. Dalam program BRIDGE inilah jembatan persahabatan antara Indonesia dan Australia terjalin melalui dunia pendidikan. Banyak hal yang telah dilakukan program itu antara lain membangun sekolah di Indonesia. Selain itu BRIDGE juga memberikan kesempata kepada guru-guru dari berbagai sekolah di Indonesia untuk melakukan studi banding di sekolah-sekolah yang ada di Australia.

Guru-guru yang dikirim ke Australia itu selain mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah setempat, juga mendapat kesempatan luas belajar karena mereka tinggal di rumah-rumah guru Australia. Walau mereka hanya tinggal di Australia selama 3 minggu (21 hari) namun ternyata banyak sekali pengalaman berharga yang dapat dipetik. Rata-rata mereka terkesan dengan minat dari warga Australia dalam mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, karena sebagian besar sekolah di Australia ternyata juga mempunyai pelajaran Bahasa Indonesia.

Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang diperoleh dari program itu. Semua guru yang pulang dari Australia setelah mengikuti program BRIDGE tak segan-segan untuk menerapkan hal-hal positif yang mereka peroleh dari Australia di sekolahnya masing-masing. Hal itu dilakukan semata-mata untuk memajukan dunia pendidikan umumnya, dan khususnya kemajuan anak didiknya masing-masing.

Banyak pihak yang sudah mengakui manfaat dari program BRIDGE tersebut, bukan hanya guru yang mendapatkan kesempatan ke Australia namun juga pihak sekolah dan para murid. Dengan terobosan-terobosan yang dilakukan oleh guru-guru yang baru pulang dari Australia, ternyata membuat suasana belajar mengajar lebih menggairahkan.

Semoga jembatan yang sudah dibangun lewat dunia pendidikan ini dapat menjadi jembatan bagi hubungan yang harmonis antara Indonesia dan Australia. Bagaimanapun juga, pengalaman dan pelajaran dapat kita petik dari siapa saja, bahkan dari orang yang paling kita benci sekalipun. Lewat program BRIDGE ini setidaknya kita mendapatkan 2 hal positif yaitu : adanya kesempatan untuk memajukan dunia pendidikan (berikut tenaga pendidiknya) dan membuat hubungan yang harmonis antara Australia dan Indonesia.

Jadi..., mengapa kita tidak memanfaatkan kesempatan untuk membuat dunia yang damai dan yang lebih baik bagi generasi penerus kita ?

*terinspirasi oleh tayangan Kick Andy : Berguru ke Negeri Kanguru*