Minggu, 02 Mei 2010

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Sportivitas

Apa yang akan kita rasakan jika kita terus menerus menerima kekalahan dan kegagalan ? Apakah kita akan mampu untuk tetap bersemangat meraih kemenangan dan keberhasilan dalam kondisi seperti itu ? Apakah kita masih mampu menerimanya sebagai kekalahan dan kesalahan sendiri tanpa menyalahkan orang lain ? Hanya orang-orang yang menjunjung tinggi sportivitaslah yang akan mampu melakukannya.

Apakah sportivitas itu ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sportivitas diartikan sebagai sikap adil (jujur) terhadap lawan; sikap bersedia mengakui keunggulan (kekuatan, kebenaran) lawan atau kekalahan (kelemahan, kesalahan) sendiri. Orang-orang yang mampu bersikap seperti itu disebut sebagai orang-orang yang sportif dan tak banyak orang-orang seperti itu.

Seorang tokoh dunia yang di mataku memiliki jiwa yang sportif adalah mantan Presiden Amerika Serikat : Abraham Lincoln. Walau kegagalan dan kekalahan beruntun terjadi dalam hidupnya, dia tak menyerah dan menyalahkan orang lain. Meskipun sempat depresi namun dia memiliki semangat untuk bangkit lagi. Sebelum akhirnya berhasil dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, kekalahan demi kekalahan telah dialaminya seperti : kalah dalam pemilihan Dewan Legislatif, kalah dalam pemilihan Kongres, kalah dalam pemilihan Senat, kalah dalam pemilihan calon Wakil Presiden. Setelah  melewati 8 kali kekalahan dalam pemilihan, sekian banyak kegagalan dalam hidup, semangatnya tak meredup dan pada pada tahun 1860 dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Bicara tentang sportivitas, aku mau tak mau mengakui bahwa ternyata sportivitas (secara tak langsung) dijunjung tinggi oleh para blogger. Awalnya aku tak menyadarinya, hingga suatu kali aku memberikan diri untuk mengikuti lomba/kompetisi yang diperuntukkan para blogger dan bersaing dengan blogger-blogger lainnya. Siapa pun yang mengikuti lomba/kompetisi pasti berharap menang, namun uniknya aku menemukan bahwa di antara para blogger yang mengikuti lomba/kompetisi itu saling mendukung satu sama lain. Mereka saling memberikan semangat bahkan saling mendoakan agar menang, meskipun mereka jelas-jelas memperebutkan hal yang sama.

Ketika pemenang lomba/kompetisi diumumkan, semangat sportivitas kembali terlihat. Peserta yang kalah mengucapkan selamat kepada para pemenang dan menerima kekalahannya dengan lapang dada. Tak ada hujatan atas kemenangan itu. Tak ada ejekan untuk kekalahan itu. Persahabatan di antara para blogger pun tetap berjalan tanpa ada aroma persaingan yang tidak sehat. Mengungkapkan pujian dan kekaguman atas blog seorang blogger berikut prestasinya, bukan hal aneh lagi. Sungguh sangat menyenangkan.

Itulah yang aku alami dan aku rasakan selama ini. Jika ada kejadian-kejadian kecil yang tidak sesuai dengan apa yang aku ceritakan di atas, aku yakin bahwa prosentasenya sangat kecil. Di mataku, persahabatan dan persaingan antara sesama blogger berjalan dengan baik dan sarat dengan semangat sportivitas.

So, jika dalam dunia maya kita mampu menjaga sportivitas, mengapa tidak kita lakukan juga dalam dunia nyata ?

Sabtu, 01 Mei 2010

Kondisi darurat

Setahun terakhir ini aku sering dihadapkan pada kondisi darurat. Yang aku maksud dengan kondisi darurat adalah kondisi yang tak terduga dan harus segera diambil tindakan secepatnya. Semula aku tentu saja sedikit kaget dan kalang kabut saat menghadapi kondisi darurat ini, namun setelah terjadi 2-3 kali aku mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapinya.

Kondisi itu bermula ketika aku mendapatkan pimpinan yang baru. Jika pemimpinku yang lama sangat detil dan terlibat penuh dalam menjalankan pekerjaannya, maka pemimpin yang baru justru memberikan kepercayaan penuh pada masing-masing tim kerja yang ada. Beliau juga tak pernah menanyakan perkembangan pekerjaan kami, sehingga kami harus berinisiatif untuk sering-sering melaporkan perkembangan pekerjaan kepada beliau.

Masalahnya, mencari beliau itu sungguh sulit, karena beliau jarang ada di tempat. Sehingga tak semua hal dapat kami konsultasikan dan kami laporkan kepada beliau. Jika kondisi sangat mendesak, mau tak mau telepon menjadi perantara yang sangat berharga bagi kami. Namun untuk menghubungi beliau melalui handphone memang kami harus memilah-milah masalah dulu, tak enak jika semua masalah kami sampaikan lewat telepon.

Dari berbagai kondisi darurat yang paling aku ingat adalah kondisi darurat yang pertama kali aku hadapi. Saat itu tim kerjaku mempersiapkan acara pembinaan administrasi kepegawaian yang rencananya akan dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah. Sambutan untuk bapak Sekretaris Daerah dan Laporan Ketua Panitia yang akan disampaikan oleh pimpinanku pun sudah kami siapkan dan kami serahkan kepada beliau-beliau itu untuk dipelajari.

Beberapa saat sebelum acara itu akan dibuka, ternyata Bapak Sekretaris Daerah berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten Administrasi Umum. Saat bapak Asisten Administrasi Umum memasuki ruangan dan duduk di depan dengan didampingi pimpinanku aku terbengong. Lho, kalau beliau duduk di sebelah bapak Asisten Administrasi Umum siapa dong yang akan menyampaikan Laporan Ketua Panitia nantinya ? Sesaat sebelum protokol membuka acara, pimpinanku melambaikan tangannya padaku dan mengatakan bahwa aku nanti yang ditugasi untuk membacakan Laporan Ketua Panitia.

What ?! Terus terang aku terkejut bukan main. Mengapa beliau menyampaikan hal ini secara mendadak ? Mengapa naskah Laporan Ketua Panitia yang mesti aku bacakan tak diserahkan kepadaku ? Bukankah naskah itu sudah kuserahkan pada beliau ?

tempat duduk utk Asisten Administrasi Umum dan pimpinanku

aku yang sedang membacakan laporan ketua panitia
Kemudian aku bergegas  kembali ke tempatku. Untung saja aku tak lupa membawa semua arsip kegiatan ini. Aku segera mencari-cari naskah Laporan Ketua Panitia. Huff..., untung ketemu. Belum sempat aku membuka map itu, protokol sudah menyilahkan aku maju untuk menyampaikan Laporan Ketua Panitia.

Setelah menenangkan diri sebentar aku berjalan menuju podium untuk membacakan Laporan Ketua Panitia yang terdiri dari 2 lembar. Alhamdulillah, halaman pertama dapat aku sampaikan dengan baik dan aku beralih ke halaman kedua. Seketika wajahku pucat pasi ketika menyadari bahwa kedua lembar naskah laporan yang aku bawa itu kedua-duanya adalah halaman pertama. Aduh..., halaman keduanya pergi kemana sih..?

Keringat sudah mulai membanjir di dahiku. Menyadari banyak mata memandangku dan menunggu kelanjutan laporanku, maka aku tahu bahwa aku tak dapat minta bantuan dari siapapun. Aku coba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat bunyi naskah Laporan Ketua Panitia itu. Alhamdulillah, meskipun dengan sedikit terbata-bata, aku mampu menyelesaikannya. Untung saja aku telah membaca sebelumnya, sehingga meskipun aku tak hafal namun aku tahu poin-poinnya.

Saat turun dari podium, rasanya beban berat sudah terangkat dari pundakku. Begitu aku sampai kembali ke tempatku, aku tunjukkan pada anggota tim-ku apa yang membuatku sempat tersendat tadi. Mereka pun sama terkejutnya denganku. Walaupun di awal acara ada insiden kecil, untungnya pelaksanaan  pembinaan administrasi kepegawaian dapat berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Alhamdulillah...

Setelah kejadian itu, ada beberapa kondisi darurat lainnya yang serupa tapi tak sama, yang disebabkan oleh pemimpinku. Mengalami kondisi darurat berulang kali membuatku kini lebih prepare lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut beliau. Aku kini telah mempersiapkan diri untuk siap sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat seperti itu.

Hikmah yang dapat kuambil adalah masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pemimpin yang baru ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya.

Kondisi darurat

Setahun terakhir ini aku sering dihadapkan pada kondisi darurat. Yang aku maksud dengan kondisi darurat adalah kondisi yang tak terduga dan harus segera diambil tindakan secepatnya. Semula aku tentu saja sedikit kaget dan kalang kabut saat menghadapi kondisi darurat ini, namun setelah terjadi 2-3 kali aku mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapinya.

Kondisi itu bermula ketika aku mendapatkan pimpinan yang baru. Jika pemimpinku yang lama sangat detil dan terlibat penuh dalam menjalankan pekerjaannya, maka pemimpin yang baru justru memberikan kepercayaan penuh pada masing-masing tim kerja yang ada. Beliau juga tak pernah menanyakan perkembangan pekerjaan kami, sehingga kami harus berinisiatif untuk sering-sering melaporkan perkembangan pekerjaan kepada beliau.

Masalahnya, mencari beliau itu sungguh sulit, karena beliau jarang ada di tempat. Sehingga tak semua hal dapat kami konsultasikan dan kami laporkan kepada beliau. Jika kondisi sangat mendesak, mau tak mau telepon menjadi perantara yang sangat berharga bagi kami. Namun untuk menghubungi beliau melalui handphone memang kami harus memilah-milah masalah dulu, tak enak jika semua masalah kami sampaikan lewat telepon.

Dari berbagai kondisi darurat yang paling aku ingat adalah kondisi darurat yang pertama kali aku hadapi. Saat itu tim kerjaku mempersiapkan acara pembinaan administrasi kepegawaian yang rencananya akan dibuka oleh Bapak Sekretaris Daerah. Sambutan untuk bapak Sekretaris Daerah dan Laporan Ketua Panitia yang akan disampaikan oleh pimpinanku pun sudah kami siapkan dan kami serahkan kepada beliau-beliau itu untuk dipelajari.

Beberapa saat sebelum acara itu akan dibuka, ternyata Bapak Sekretaris Daerah berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Asisten Administrasi Umum. Saat bapak Asisten Administrasi Umum memasuki ruangan dan duduk di depan dengan didampingi pimpinanku aku terbengong. Lho, kalau beliau duduk di sebelah bapak Asisten Administrasi Umum siapa dong yang akan menyampaikan Laporan Ketua Panitia nantinya ? Sesaat sebelum protokol membuka acara, pimpinanku melambaikan tangannya padaku dan mengatakan bahwa aku nanti yang ditugasi untuk membacakan Laporan Ketua Panitia.

What ?! Terus terang aku terkejut bukan main. Mengapa beliau menyampaikan hal ini secara mendadak ? Mengapa naskah Laporan Ketua Panitia yang mesti aku bacakan tak diserahkan kepadaku ? Bukankah naskah itu sudah kuserahkan pada beliau ?

tempat duduk utk Asisten Administrasi Umum dan pimpinanku

aku yang sedang membacakan laporan ketua panitia
Kemudian aku bergegas  kembali ke tempatku. Untung saja aku tak lupa membawa semua arsip kegiatan ini. Aku segera mencari-cari naskah Laporan Ketua Panitia. Huff..., untung ketemu. Belum sempat aku membuka map itu, protokol sudah menyilahkan aku maju untuk menyampaikan Laporan Ketua Panitia.

Setelah menenangkan diri sebentar aku berjalan menuju podium untuk membacakan Laporan Ketua Panitia yang terdiri dari 2 lembar. Alhamdulillah, halaman pertama dapat aku sampaikan dengan baik dan aku beralih ke halaman kedua. Seketika wajahku pucat pasi ketika menyadari bahwa kedua lembar naskah laporan yang aku bawa itu kedua-duanya adalah halaman pertama. Aduh..., halaman keduanya pergi kemana sih..?

Keringat sudah mulai membanjir di dahiku. Menyadari banyak mata memandangku dan menunggu kelanjutan laporanku, maka aku tahu bahwa aku tak dapat minta bantuan dari siapapun. Aku coba menenangkan diri dan mencoba mengingat-ingat bunyi naskah Laporan Ketua Panitia itu. Alhamdulillah, meskipun dengan sedikit terbata-bata, aku mampu menyelesaikannya. Untung saja aku telah membaca sebelumnya, sehingga meskipun aku tak hafal namun aku tahu poin-poinnya.

Saat turun dari podium, rasanya beban berat sudah terangkat dari pundakku. Begitu aku sampai kembali ke tempatku, aku tunjukkan pada anggota tim-ku apa yang membuatku sempat tersendat tadi. Mereka pun sama terkejutnya denganku. Walaupun di awal acara ada insiden kecil, untungnya pelaksanaan  pembinaan administrasi kepegawaian dapat berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali. Alhamdulillah...

Setelah kejadian itu, ada beberapa kondisi darurat lainnya yang serupa tapi tak sama, yang disebabkan oleh pemimpinku. Mengalami kondisi darurat berulang kali membuatku kini lebih prepare lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut beliau. Aku kini telah mempersiapkan diri untuk siap sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat seperti itu.

Hikmah yang dapat kuambil adalah masing-masing pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pemimpin yang baru ini, aku mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri seluas-luasnya.

Jumat, 30 April 2010

Peduli sampah, peduli lingkungan

Sobat.., aku kembali ingin bicara tentang sampah, meskipun di postingan terdahulu aku sudah pernah membicarakan sampah sebanyak 2 kali, yaitu Ayo Bicara Tentang Sampah dan Memanfaatkan Barang Lama. Mungkin sobat banyak yang mempertanyakan mengapa aku kali ini kembali bicara tentang sampah. Jawabnya adalah... karena : Kilau Satu Bintang.

Nah.., pasti sekarang pertanyaannya ganti menjadi : "Apa itu Kilau Satu Bintang ?" Oke sobat, aku akan menjelaskannya. Kilau Satu Bintang adalah sebuah Novel karya Teera yang di dalamnya membicarakan sampah juga, disamping membicarakan tentang dilema seorang wanita yang menikah yang juga mengejar karirnya. Ingin tahu lebih detil..? Mari kita bahas bersama...


Adalah Alia, seorang yang menjadi 'bintang' di kampusnya. Dia cerdas, mandiri, perfeksionis dan aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan. Berhasil lulus dengan cemerlang dari kampusnya, Alia pun tak kesulitan mencari pekerjaan yang mapan. Sekali lagi, di tempat kerja Alia dapat menunjukkan kualitas 'bintang' dalam dirinya dan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan sangat baik.

Alia pun terlena dalam mengejar karirnya, hingga lupa untuk membangun keluarga hingga sang bunda memperingatkannya. Bagi Alia, memutuskan untuk menikah bukanlah hal yang mudah karena dia khawatir jika nanti menikah dia tak mampu lagi mengejar karirnya. Apalagi, 'pekerjaan domestik' sebagai ibu rumah tangga benar-benar tak menarik minatnya.

Kehidupan pernikahan Alia pada awalnya baik-baik saja, namun setelah setahun berlalu tanpa ada tanda-tanda kehamilan, Alia pun gelisah. Apalagi sudah banyak orang yang bertanya kapan dia akan menimang anak. Berdasarkan saran dokter dan pertimbangan sang suami, akhirnya dengan berat hati Alia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di saat dia akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang selama ini menjadi impiannya. Namun keinginan untuk hamil lebih kuat sehingga Alia memilih untuk mengubur mimpinya. Suatu keputusan yang sangat disesali oleh sahabatnya, Sofie.

Alia yang terbiasa aktif tak bisa diam di rumah setelah resmi keluar dari pekerjaannya, dan dia melakukan banyak kegiatan untuk membuang jenuh. Hingga beberapa peristiwa membuatnya berpaling untuk peduli kepada sampah. Keterlibatan Aulia dalam mengurusi masalah sampah mendapat tentangan keras dari beberapa penduduk di sekitarnya. Hal tersebut membuat Aulia kelelahan secara fisik dan psikis di saat dia sedang fokus untuk bisa hamil.

Terus terang..., sebagian yang dilakukan Alia telah aku lakukan dalam kehidupanku sehari-hari. Hanya bedanya, aku melakukannya sendiri sehingga tak memberikan dampak sama sekali bagi lingkungan di sekitarku. Jika aku sekedar berangan-angan dan melakukan perubahan kecil di rumahku, sedangkan Alia berani mewujudkan angannya. Dia telah berani melangkah lebih jauh dan mengajak lingkungan untuk melakukan hal yang sama sepertinya, meskipun sangat tak mudah.

Tiga keranjang sampah yang kusiapkan :
kiri utk sampah kering, tengah utk sampah basah dan kanan utk sampah yg biasa diambil oleh para pemulung

Sungguh aku tak menyesal memiliki novel ini dan bisa dengan bangga berkata kepada suamiku bahwa apa yang aku lakukan selama ini (di rumah) telah dilakukan juga Alia, oleh tokoh utama dalam buku ini. Bahwa apa yang aku pikirkan dan aku khawatirkan... juga dipikirkan dan dikhawatirkan oleh Alia. Maklum saja, selama ini suamiku memandang sebelah mata pada kerepotanku mengurusi sampah di rumah. Dan.., sejak itu suamiku tak pernah lagi memprotesku jika aku ribut dengan sampah-sampahku... ^_^

Penulis : Teera
Kategori : Fiksi
Penerbit : Frenari
Th. Terbit : Juli 2009 (cetakan I)
Tebal : 200 halaman
Harga : Rp. 30.000