Rabu, 28 Juli 2010

Laundry oh Laundry

Pada saat ini, makin banyak orang yang mencoba peruntungan mereka dalam dunia usaha. Bahkan dengan makin berkembangnya dunia ini, jenis usaha pun kian beragam. Kalau dulu orang-orang cenderung mencoba usaha di bidang makanan dan busana, kini tidak lagi. Ada yang mencoba usaha yang menyangkut buku, kerajinan tangan dll. Apalagi internet sangat mendukung dilakukannya toko online.

Yang saat ini sedang menjamur di kotaku adalah usaha laundry. Jika dulu pengusaha laundry hanya ada 1 dan itupun menarik biaya yang mahal, kini keadaan sudah berubah. Sudah banyak laundry di setiap pelosok kota, mulai dari sistem kiloan ataupun bijian. Kebetulan, aku punya beberapa pengalaman dengan beberapa laundry di kotaku. Karena aku tak punya asisten rumah tangga, maka terkadang aku membutuhkan jasa laundry untuk membantuku ketika waktuku sedang sangat sempit.

Semula aku mencoba laundry "D" yang memberikan fasilitas antar jemput dan sehari jadi. Selama ini aku cukup puas dengan pelayanannya karena tak pernah mengecewakan. Hanya saja, laundry "D" itu terhitung sedikit lebih mahal dibandingkan dengan laundry kiloan, karena laundry "D" menerapkan biaya untuk tiap potong baju. Namun untuk baju-baju itu penanganan khusus, seperti jas, kebaya atau baju yang berpayet-payet, aku lebih percaya kepada laundry "D".

gambar diculik dari sini

Aku pernah juga mencoba laundry "H" yang menerapkan sistem kiloan. Saat itu aku sedang sangat repot dan hendak bepergian, sehingga aku mencoba menggunakan jasa laundry "H". Kalau tidak salah, selama 3 kali aku menggunakan jasanya, aku selalu saja kecewa. Penyebabnya adalah waktu yang dijanjikan untuk selalu saja molor. Bahkan yang terakhir, janji 3 hari jadinya malah 6 hari...!

Kejadian itu membuatku kapok menggunakan jasa laundry "H" dan aku beralih ke laundry "K". Untuk urusan antar jemput cucian laundry "K" tak mengalami masalah dan selalu tepat waktu. Tapi, setelah 2 kali menggunakan jasanya, aku melihat bahwa hasil setrikaannya kurang rapi. Bahkan ada baju kerjaku yang 'rusak' karena setrikanya terlalu panas. Jadi, kuputus kerjasamaku dengan laundry "K".

Lama tak menggunakan jasa laundry, kembali aku mencari laundry baru setelah aku pulang dari Makasar. Maklum saja, sepulangnya dari Makasar aku malah masuk angin dan batuk-batuk. Sehingga untuk cucian yang besar-besar seperti jeans, sprei dll aku kembali mencari jasa laundry. Kali ini pilihan jatuh pada laundry "Q". Alhamdulillah..., setelah 3 kali menggunakan jasa laundry "Q" aku cukup puas dengan pelayanannya. Cucian yang dijanjikannya selesai dalam 2 hari selalu tepat waktu dan setrikaannya pun lumayan rapi.

Dari kejadian itu aku berpikir bahwa memanjakan pelanggan memang sulit dan membutuhkan kesungguhan hati. Jika seseorang menjalankan usaha tapi lupa mengutamakan kepentingan/kepuasan pelanggan, aku yakin usahanya akan dengan mudah gulung tikar. Seperti laundry "H" yang tergolong pelopor dalam bisnis laundry kiloan, setelah usahanya laris manis kini malah keteteran mengurus pelanggannya sehingga janji 3 hari jadi selalu saja mundur.

Padahal, kini banyak sekali laundry baru bermunculan di kotaku. Laundry "K" termasuk yang baru dan masalah janji masih bisa ditepati, mungkin karena pelanggannya belum banyak. Hanya sayangnya dia tak menjaga kerapian setrikaannya, sehingga pelanggan sepertiku yang merasa kesal karena bajunya jadi rusak karena seterika yang terlalu panas memilih mundur.

Ternyata... jika ada kemauan disitu ada jalan. Begitu banyak peluang usaha yang bisa dimanfaatkan karena mengingat makin sempitnya waktu para orang tua yang bekerja. Hanya saja, usaha tak hanya membutuhkan modal semata, tapi juga kemauan untuk memberikan pelayanan dan kepuasan bagi pelanggannya. Tanpa itu semua.., rasanya tinggal menunggu tutup saja.

Selasa, 27 Juli 2010

Belajar dari anak-anak

Cerita kali ini masih ada kaitannya dengan cerita tentang belajar tentang arti kelompok dan kepemimpinan yang aku ceritakan kemarin. Jadi, setelah aku melaporkan masalah anak-anak kelas 5 itu kepada bapak pembina Pramuka, rupanya kemarin siang langsung ditindaklanjuti oleh beliau.

Saat beliau masuk ke kelas 5, beliau meminta ketua Pramuka regu putri maju ke depan. Shasa dan satu lagi temannya (sebut saja namanya Tyas) maju. Setelah itu, bapak pembina Pramuka itu menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari anak-anak itu, akhirnya beliau memberikan penjelasan panjang lebar tentang arti kelompok. Beliau menekankan agar regu yang terbentuk jangan sampai dirubah-rubah lagi.

Akhirnya, memang regu Pramuka di kelas Shasa tidak mengalami perubahan. Semua bisa menerima dengan baik. Yang menarik, Tyas sebagai ketua regu putri kelompok lainnya, yang berencana untuk mengambil 4 orang anggota regu dari Shasa tanpa diminta meminta maaf pada Shasa. Selain itu, Mita (sebut saja begitu) sebagai salah satu dari 4 orang yang akan berpindah regu, juga meminta maaf pada Shasa. Shasa pun menerima permintaan maaf itu dengan tangan terbuka.

Lihatlah..., betapa anak-anak ternyata mampu bersikap lebih bijak daripada orang-orang dewasa. Anak-anak tanpa diminta telah dengan mudah meminta maaf atas kesalahannya. Mereka tak merasa gengsi meminta maaf. Sementara anak-anak pun dengan tulus memaafkannya, tanpa mengungkit-ungkit lagi semua yang telah terjadi. Sekarang pun pertemanan di antara mereka berjalan dengan normal, tanpa ada rasa sakit hati atau dendam. Bahkan, kemarin siang pun Shasa sudah berlatih lagi menari bersama-sama dengan anggota regunya.


Tak hanya Shasa dan teman-temannya yang belajar banyak dari kejadian kemarin itu. Tapi aku, yang kebetulan tahu permasalahan itu, jadi mendapat pelajaran berharga pula dari anak-anak. Aku belajar menjadi bijak, agar aku dapat mengajarkannya kepada Shasa. Aku belajar tentang ketulusan karena kulihat anak-anak dengan mudah melakukannya. Aku belajar lebih banyak tentang kekuatan maaf yang telah mampu mengukir kembali senyum di bibir mereka-mereka yang semula bermasalah.

Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan mudah meminta maaf pada siapa saja (termasuk kepada anak-anak sekalipun) saat kita melakukan kesalahan ? Apakah kita, selaku orang dewasa akan dengan tulus hati memberikan maaf pada orang-orang yang telah menyakiti kita ? Apakah kita, selaku orang-orang dewasa, akan dengan mudah melupakan rasa sakit hati dan dendam di hati kita ? Apakah kita, lebih baik daripada anak-anak itu ?

Kali ini..., rasanya yang mendapat pelajaran berharga lebih banyak adalah aku dari Shasa (dan teman-temannya) ... dan bukan  sebaliknya.

Senin, 26 Juli 2010

Belajar tentang arti kelompok dan kepemimpinan

Baru-baru ini Shasa belajar banyak tentang arti kelompok dan kepemimpinan. Untuk pelaksanaan perkemahan Pramuka yang akan diselenggarakan pada Sabtu-Minggu (tanggal 7-8 Agustus 2010 nanti) di kelas shasa sudah dibentuk 4 regu, 2 regu putra dan 2 regu putri. Shasa ditunjuk oleh Pembima Pramuka sebagai salah satu ketua dari regu putri dengan membawahi 9 orang anggota.

Mereka bersepuluh sudah seminggu kemarin berlatih atraksi yang akan ditampilkan dalam acara api unggun. Rencananya regunya Shasa akan menari. Namun sayang, ada 1 orang dalam kelompok Shasa yang sering tidak hadir saat latihan menari. Anggota regu Shasa yang lain meminta Shasa untuk mengeluarkan 1 orang yang tak pernah latihan itu (sebut saja namanya Cindy), karena regu yang satunya juga telah mengeluarkan 4 orang dari kelompoknya.

Sewaktu Shasa meminta pendapatku tentang usulan teman-temannya agar dia mengeluarkan Cindy, aku dengan tegas melarangnya. Kukatakan pada Shasa bahwa tugas ketua regu salah satunya adalah untuk menjaga kekompakan dan keutuhan kelompok. Memang tidak mudah karena karakter tiap anak berbeda-beda, tapi kutegaskan pada Shasa bahwa ini kesempatan istimewa baginya untuk berlatih mengatur banyak orang dengan banyak karakter. Kukatakan juga pada Shasa, baik buruknya anggota dan sukses tidak suatu regunya, semua itu tergantung pada pemimpinnya.

Kujelaskan juga kepadanya bahwa mungkin saja selama ini Cindy tak ikut berlatih karena tak ada orang tua yang mengantarkannya. Untuk anak-anak seusia Shasa, mobilitas mereka memang masih sangat tergantung pada orang tua mereka. Apalagi tempat dilakukannya latihan menari tempatnya kebetulan jauh dari rumah Cindy. Kuminta Shasa untuk membayangkan dirinya andai jadi Cindy yang dikeluarkan dari regunya, sementara regu yang lain juga tak mau menerimanya, bagaimana sedih dan terpukulnya perasaan Cindy. Itu makanya aku (dan ayahnya), meminta Shasa untuk tetap memberikan tempat bagi Cindy dalam regunya itu.

Aku (dan ayahnya) terus menerus memompa semangat Shasa untuk sebisa mungkin menyatukan anggota regunya. Ayahnya semula mengusulkan agar selama pelaksanaan api unggun itu, Cindy ditugasi untuk menjaga tenda karena dia tak bisa menari karena tak pernah latihan. Namun ternhyata Shasa punya solusi sendiri yang lebih bagus (menurutku). Dia meminta Cindy untuk tampil sendiri di acara api unggun itu dengan membaca puisi, sementara teman-teman lainnya menari.

Setelah keadaan berjalan 'normal' tiba-tiba Sabtu kemarin ada berita mengejutkan dari Shasa. Regu putri satunya yang telah mengeluarkan 4 orang anggotanya, tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan telah menarik 4 orang dari kelompok Shasa. Hal itu tentu saja memukul perasaan Shasa, apalagi selama ini dia sudah berjuang keras menjaga keutuhan kelompoknya.

Kali ini aku tak mau tinggal diam, karena kejadian bongkar pasang kelompok di kelas Shasa sudah terjadi sejak kelas 4 dulu. Aku melihat bahwa anak-anak itu belum diajar tentang arti kelompok, sehingga bagi mereka sah-sah saja mengeluarkan anggota kelompoknya dan menggantinya dengan orang lain sekehendak sendiri. Aku melihat bahwa anak-anak di kelas Shasa cenderung mengambil jalan termudah, tak cocok dibuang. Sehingga tak ada upaya untuk menyatukan visi dan misi dan membawa kelompok tetap utuh sampai tujuan.

Aku tak ingin perilaku seperti itu tetap jadi kebiasaan, sehingga terbawa pada dunia kerja nantinya. Sering aku melihat bahwa staf-staf yang bermasalah selalu saja diusulkan untuk dipindahkan ke bidang/kantor yang lain, dan mereka meminta ganti staf yang baik. Semua minta yang enak-enak saja. Padahal salah satu tugas dari pemimpin itu adalah memberikan pembinaan kepada anggotanya, sehingga baik buruknya anggota adalah menjadi tanggung jawab pemimpin.

Dengan dasar pemikiran itulah, aku tadi pagi sengaja menemui bapak guru pembimbing Pramuka di sekolah Shasa. Kujelaskan pada beliau tentang kondisi anak-anak perempuan kelas 5. Aku meminta bantuan kepada beliau untuk dalam kegiatan kepramukaan lebih menekankan dan melatih masalah kerjasama kelompok. Ternyata tanggapan dari guru pembimbing Pramuka sangat baik, bahkan beliau sendiri mengaku bahwa Sabtu kemarin sudah ada anak yang mengadu padanya kalau dia dikeluarkan dari regu Pramukanya. Hanya saja, Sabtu kemarin beliau belum sempat menindaklanjuti laporan tersebut.

Alhamdulillah, kejadian itu telah memberikan banyak pelajaran berharga pada Shasa. Dan kulihat Shasa tetap mau menerima 4 orang anggota regunya yang semula ingin pindah ke regu lain. Kukatakan padanya bahwa inilah pelajaran berharga yang tak dapat ditemukannya dari buku-buku. Aku bangga dengan kebesaran hatinya yang mau menerima kembali 4 orang anggotanya. Semoga saja, peristiwa itu juga memberikan pelajaran berharga bagi anggota regu yang lain.

Minggu, 25 Juli 2010

Ketika Shasa iseng

Di awal kelas 5 ini, beban pelajaran Shasa belum terlalu berat. Belum banyak tugas-tugas yang harus dikerjakannya, karena memang buku paket pelajaran belum dibagikan. Itu sebabnya, Shasa punya banyak waktu luang. Shasa punya banyak alternatif kegiatan di saat dia sedang iseng tak punya kerjaan.

Alternatif kegiatan pertama yang dilakukannya adalah... so pasti di dalam kamar, tidur tengkurap sambil membaca buku...! Jika jenuh membaca, Shasa akan beralih ke televisi.... nonton Upin dan Ipin hehehe. Namun, jika ternyata acara televisi membuatnya bosan juga, maka tangan-tangan mungilnya akan mencari mangsa. Ada saja yang dilakukannya... yang berakibat sampah tersebar dimana-mana. Itu sebabnya... meja belajarnya tak pernah rapi... *sigh*

Sudah menjadi kebiasaannya, Shasa tak mau ditungguin saat sedang iseng seperti itu. Alasannya, dia ingin membuat kejutan atas apa yang telah dibuatnya. Suatu ketika, Shasa asyik dengan gunting, kertas karton dan kertas melipatnya. Aku hanya mengamati saja dari jauh dan tak boleh mendekat sementara dia dengan serius menekuni pekerjaannya. Aku menahan nafas melihat potongan-potongan kertas berceceran kemana-mana...

Tak lama kemudian, dia dengan bangga menunjukkan pigura hasil karyanya. Hemmm... bagus juga. Kertas karton ditutupnya dengan kertas lipat biru, kemudian dia menggunting lagi kertas lipat warna pink dan kuning menjadi bentuk-bentuk hati dan menempelkannya pada pigura itu. Memang belum terlalu rapi, tapi aku salut dengan kreativitasnya.


Ternyata dia ingin membuatkan hadiah untuk sahabatnya, Lutfi. Pigura itu pun berisikan foto Shasa dan Lutfi saat mereka kelas 1 SD dulu. Shasa bangga sekali dengan hasil karyanya sore itu....

Sabtu, 24 Juli 2010

Bersiap untuk boyongan

Sobat.., beberapa saat yang lalu telah kuceritakan bahwa aku telah dimutasi ke tempat baru. Namun..., aku tak bisa langsung boyongan ke tempatku yang baru. Ada beberapa hal yang menyebabkan mengapa aku tak bisa langsung menduduki tempatku yang baru. Yang pertama tentu saja karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, begitu juga dengan penggantiku. Oleh sebab itu, kami sepakat untuk menyelesaikan tugas masing-masing terlebih dahulu.

Sehari setelah aku dimutasi, aku masih bertugas untuk menghadiri acara sosialisasi yang diselenggerakan di Makasar. Sementara penggantiku mempersiapkan acara yang akan diselenggarakan mulai tanggal 23 s/d 31 Juli di Bandung. Jadi, penggantiku baru bisa aktif bekerja menggantikan aku terhitung mulai 1 Agustus 2010 nanti. Itu sebabnya, sampai akhir bulan ini aku masih bertanggung jawab menyelesaikan tugas-tugasku yang (seharusnya) telah menjadi tugas-tugasnya.

Sebenarnya, aku dimutasi ke tempat yang 'kosong' karena orang yang menduduki tempat itu sebelumnya telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Kekosongan itulah yang menyebabkan aku bisa langsung masuk tanpa menunggu apa-apa lagi, namun karena resiko dan beban pekerjaannya relatif lebih ringan maka aku bisa mendelegasikannya pada anggota timku yang baru, yang kebetulan orang-orang lama semua di bidangnya.

Memang, aku tidak dimutasi keluar dari kantorku yang sekarang, hanya ganti bidang yang aku tangani saja. Dan... Insya Allah Senin besok aku benar-benar akan menduduki posisi baruku. Makanya, beberapa hari ini aku mulai sibuk beres-beres, bersiap untuk boyongan. Mulai dari membongkar semua arsip-arsip pekerjaan sampai membersihkan mejaku. Hampir setiap hari aku memindahkan barang-barang pribadiku ke meja baruku (yang ada di ruangan lain). Alhamdulillah ..., Jum'at kemarin semua barangku sudah beralih tempat di mejaku yang baru... siap untuk aku gunakan Senin depan.

Sobat.., doakan aku semoga aku bisa menjalankan tugas baru di tempat baru dengan baik ya..?